Senin, 20 Mei 2013

Makalah Integrasi Kebudayaan

Posted by Muh Zulfajrin On 06.13 0 komentar

makalahmakalah.com,- puji syukur kehadirat Tuhan yang telah memberikan Rahmatnya sehingga tulisan ini muncul di permukaan. Baca makalah kami yang lain di kumpulan makalah 
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Integrasi budaya adalah jika yang dikendalikan, disatukan, atau dikaitkan satu sama lain itu adalah unsur-unsur budaya atau kemasyarakatan. Suatu integrasi budaya di perlukan agar masyarakat tidak bubar meskipun menghadapi berbagai tantangan, baik merupa tantangan fisik maupun konflik yang terjadi secara budaya budaya.
1.2. Rumusan Masalah
Dalam penulisan ini makalah ini akan membahas beberapa isi yang menyangkut, yaikni :
a.       Pengertian Integrasi
b.      Metode Holistik
c.       Kepribadian Umum
1.3. Tujuan Penulisan
Untuk melengkapi tugas mata kuliah yang di bimbing oleh Bapak Akmalludin, S.Pd.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Integrasi
Integrasi berasal dari bahasa inggris "integration" yang berarti kesempurnaan atau keseluruhan. integrasi budaya dimaknai sebagai proses penyesuaian di antara unsur-unsur yang saling berbeda dalam kehidupan masyarakat sehingga menghasilkan pola kehidupan masyarakat yang memilki keserasian fungsi. Definisi lain mengenai integrasi adalah suatu keadaan di mana kelompok-kelompok etnik beradaptasi dan bersikap komformitas terhadap kebudayaan mayoritas masyarakat, namun masih tetap mempertahankan kebudayaan mereka masing-masing. Integrasi memiliki 2 pengertian, yaitu :
1.      Pengendalian terhadap konflik dan penyimpangan budaya dalam suatu sistem budaya tertentu
2.      Membuat suatu keseluruhan dan menyatukan unsur-unsur tertentu
Sedangkan yang disebut integrasi budaya adalah jika yang dikendalikan, disatukan, atau dikaitkan satu sama lain itu adalah unsur-unsur budaya atau kemasyarakatan. Suatu integrasi budaya di perlukan agar masyarakat tidak bubar meskipun menghadapi berbagai tantangan, baik merupa tantangan fisik maupun konflik yang terjadi secara budaya budaya. Menurut pandangan para penganut fungsionalisme struktur sistem budaya senantiasa terintegrasi di atas dua landasan berikut :
a.       Suatu masyarakat senantiasa terintegrasi di atas tumbuhnya konsensus (kesepakatan) di antara sebagian besar anggota masyarakat tentang nilai-nilai kemasyarakatan yang bersifat fundamental (mendasar)
b.      Masyarakat terintegrasi karena berbagai anggota masyarakat sekaligus menjadi anggota dari berbagai kesatuan budaya (cross-cutting affiliation). Setiap konflik yang terjadi di antara kesatuan budaya dengan kesatuan budaya lainnya akan segera dinetralkan oleh adanya loyalitas ganda (cross-cutting loyalities) dari anggota masyarakat terhadap berbagai kesatuan budaya.
Penganut konflik berpendapat bahwa masyarakat terintegtrasi atas paksaan dan karena adanya saling ketergantungan di antara berbagai kelompok. Integrasi budaya akan terbentuk apabila sebagian besar masyarakat memiliki kesepakatan tentang batas-batas teritorial, nilai-nilai, norma-norma, dan pranata-pranata social ada beberapa sarjana antropologi lain yang mencoba mencapai pengertian mengenai masalah integrasi kebuadayaan integrasi kebudayaan dan jaringan berkaitan antara unsur-unsur dengan cara meneliti fungsi unsur-unsur itu. Istilah “fungsi” itu dapat dipakai dalam bahasa sehari-hari maupun dalam bahasa ilmiah dengan arti yang berbeda-beda. Seorang sarjana antrpologi , M. E. Spiro, pernah mendapatkan bahwa dalam karangan ilmiah ada tiga cara pemakaian kata “fungsi” itu ialah :
1.      Menerangkan “fungsi” itu sebagai hubungan antara suatu hal dengan suatu tujuan tertentu (misalnya mobil mempunyai fungsi sebagai alat untuk mengangkut manusia atau barang dari satu tempat ke tempat lain.)
2.      Menerangkan kaitan antara satu hal dengan hal yang lain (kalau nilai dari satu hal x itu berubah, maka nilai dari suatu hal lain yang ditentukan oleh x tadi, juga berubah).
3.      Menerangkan hubungan yang terjadi antara satu hal dengan hal-hal lain dalam suatu sistem yang terintegrasi (suatu bagian dari suatu organisme yang berubah menyebabkan perubahan dari berbagai bagian lain, malahan sering menyebabkan perubahan dalam seluruh organisme).
“Fungsi” dalam arti pertama selain dalam bahasa ilmiah, juga merupakan dalah satu arti dalam bahasa sehari-hari, arti kedua dangat penting dalam ilmu pasti, tetapi juga mempunyai arti dalam ilmu-ilmu budaya, antara lain dalam ilmu antropologi, sedangkan dalam arti ketiga terkandung kesadaran para sarjana antropologi akan integrasi kebudayaan itu. Kesadaran akan metode untuk memandang suatu yang hidup sebagai sistem yang terintegrasi, timbul setelah tahun 1925 ketika buku etnografitulisan B.
Cara menulis suatu deskripsi etnografi terintergrasi atau holistik seperti itu memang merupakan suatu gejala batu dalam ilmu antropologi ketika itu. Dalam zaman terbitannya buku Malinowski memang banyak sekali sarjana antropologi dari aliran Kultur Historisch atau aliran sejarah penyebaran kebudayaan-kebudayaan dimuka bumi yang secara ekstrem memusatkan perhatian mereka terhadap arah-arah penyebaran gepgrafi dari sekumpulan unsur-unsur kebudayaan tertentu yang sering diambil dan dipangang terlepas dari jaringan kaitan kebudayaan induknya. Oleh karena itu, cara penulisan Malinowksi yang menggambarkan integrasi kebudayaan Trobriand sekitar aktivitas perdagangan kula sebagai fokusnya, merupakansuatu kontras yang sangat menarik perhatian.
Dengan demikian, seandainya seorang ahli dapat membuat daftar yang selengkap-lengkapnya dari hasrat-hasrat naluri manusia di sebelah kiri, maka di sebelah kanan ia dapat membuat daftar dan unsur-unsur kebudayaan manusia yang sejajar dengan hasrat tadi. Tetapi harus berfungsi untuk memuaskan ada unsur-unsur kebudayaan yang tidak hanya befungsi untuk memuaskan satu hasrat naluri saja, tetapi suatu kombinasi dan lebih dari satu hasrat. Keluarga, misalnya dapat dianggap berfungsi guna memenuhi hasrat prokreasi, yaitu melanjutkan jenisnya dan mengamankan keturunannya itu. Rumah dapat dianggap berfungsi guna memenuhi hasrat manusia akan perllindungan fisik, tetapi juga hasrat akan gengsi atau keindahan.
2.1.1.      Pengertian Integrasi dalam Kebudayaan
Secara arti kata Integrasi berasal dari bahasa inggris "integration" yang berarti kesempurnaan atau keseluruhan. Dalam hal ini integrasi budaya dimaknai sebagai proses penyesuaian di antara unsur-unsur yang saling berbeda dalam kehidupan masyarakat sehingga menghasilkan pola kehidupan masyarakat yang memilki keserasian fungsi. Sedangkan definisi lain dari integrasi adalah suatu keadaan di mana kelompok-kelompok etnik beradaptasi terhadap kebudayaan mayoritas masyarakat, namun masih tetap mempertahankan kebudayaan mereka masing-masing. Sehingga integrasi memiliki dua pengertian, yaitu :
1.      Pengendalian terhadap konflik dan penyimpangan budaya dalam suatu sistem budaya tertentu.
2.      Membuat suatu keseluruhan dan menyatukan unsur-unsur tertentu.
Dalam pengertian sempit integrasi budaya adalah jika yang dikendalikan, disatukan, atau dikaitkan satu sama lain itu adalah unsur-unsur budaya atau kemasyarakatan. Suatu integrasi budaya di perlukan agar masyarakat tidak bubar meskipun menghadapi berbagai tantangan, baik merupa tantangan fisik maupun konflik yang terjadi secara budaya budaya. Integrasi masyarakat dapat diartikan adanya kerjasama dari seluruh anggota masyarakat, mulai dari individu, keluarga, lembaga-lembaga dan masyarakat secara keseluruhan. Sehingga menghasilkan persenyawaan-persenyawaan, berupa adanya konsensus nilai-nilai yang sama dijunjung tinggi.
Dalam hal ini terjadi kerja sama, akomodasi, asimilasi dan berkuranmgnya sikap-sikap prasangka di antara anggota msyarakat secara keseluruhan. Integrasi masyarakat akan terwujud apabila mampu mengendalikan prasangka yang ada di dalam masyarakat, sehingga tidak terjadi konflik, dominasi, mengdeskriditkan pihak-pihak lainnya dan tidak banyak sistem yang tidak saling melengkapi dan tumbuh integrasi tanpa paksaan. Oleh karena itu untuk mewujudkan integrasi bangsa pada bangsa yang majemuk dilakukan dengan mengatasi atau mengurangi prasangka.
Menurut pandangan para penganut fungsionalisme integrasi budaya dalam masyarakat senantiasa terkait dengan dua landasan berikut :
1.             Suatu masyarakat senantiasa terintegrasi di atas tumbuhnya konsensus (kesepakatan) di antara sebagian besar anggota masyarakat tentang nilai-nilai kemasyarakatan yang bersifat fundamental (mendasar)
2.             Masyarakat terintegrasi karena berbagai anggota masyarakat sekaligus menjadi anggota dari berbagai kesatuan budaya (cross-cutting affiliation). Setiap konflik yang terjadi di antara kesatuan budaya dengan kesatuan budaya lainnya akan segera dinetralkan oleh adanya loyalitas ganda (cross-cutting loyalities) dari anggota masyarakat terhadap berbagai kesatuan budaya.
Sehingga definisi dari integrasi budaya dalam masyarakat dapat diartikan sebagai kerjasama dari seluruh anggota masyarakat, mulai dari individu, keluarga, lembaga-lembaga dan masyarakat secara keseluruhan. Sehingga menghasilkan persenyawaan-persenyawaan, berupa adanya konsensus nilai-nilai yang sama dijunjung tinggi. Dalam hal ini terjadi kerja sama, akomodasi, asimilasi dan berkuranmgnya sikap-sikap prasangka di antara anggota msyarakat secara keseluruhan. Integrasi masyarakat akan terwujud apabila mampu mengendalikan prasangka yang ada di dalam masyarakat, sehingga tidak terjadi konflik, dominasi, mengdeskriditkan pihak-pihak lainnya dan tidak banyak sistem yang tidak saling melengkapi dan tumbuh integrasi tanpa paksaan.
2.1.2.      Bentuk-bentuk Integrasi dalam Kebudayaan
Bentuk integrasi budaya dalam masyarakat dapat dibagi menjadi dua bentuk yakni:
a.       Asimilasi, yaitu pembauran kebudayaan yang disertai dengan hilangnya ciri khas kebudayaan asli. Dalam masyarakat bentuk integrasi budaya ini terlihat dari pembentukan tatanan budaya yang baru yang menggantikan budaya Asli. Biasanya bentuk integrasi ini diterapkan pada kehidupan budaya yang primitif dan rasis. Maka dari itu budaya Asli yang bertentangan dengan norma dan mengancam disintegrasi masyarakat akan digantikan dengan tatanan budaya baru yang dapat menyatukan beragam latar belakang budaya.
b.      Akulturasi, yaitu penerimaan sebagian unsur-unsur asing tanpa menghilangkan kebudayaan asli. Akulturasi menjadi alternatif tersendiri dalam menyikapi interaksi budaya, hal ini didasarkan pada nilai-nilai budaya masyarakat yang beberapa dapat dipertahankan. Sehingga nilai-nilai baru yang ditanamkan pada masyarakat tersebut akan menciptakan keharmonisan untuk mencapai integrasi budaya.
2.1.3.      Faktor-faktor untuk mencapai Integrasi Budaya dalam Masyarakat
Integrasi budaya dalam masyarakat dapat dicapai apabila unsur-unsur budaya saling berinteraksi.Selain itu norma-norma budaya dan adat istiadat yang baik turut menjadi penunjang untuk mencapai integrasi budaya tersebut. Hal ini dikarenakan norma-norma budaya dan adat istiadat merupakan unsur yang mengatur perilaku dengan mengadakan tuntutan mengenai bagaimana orang harus bertingkah laku. Namun demikian tercapainya integrasi budaya dalam masyarakat memerlukan pengorbananm, baik pengorbanan perasaan, maupun pengrobanan materil. Dasar dari pengorbanan adalah langkah penyesuaian antara perbedaan perasaan, keinginan, ukuran dan penilaian di dalam masyarakat tersebut.  Maka dari itu norma budaya sebagai acuan bertindak dan berprilaku dalam masyarakat akan memberikan pedoman untuk seorang bagaimana berbudayaisasi dalam masyarakat.
Adapun faktor-faktor internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi integrasi budaya dalam masyarakat, antara lain sebagai berikut:
a.       Faktor internal : kesadaran diri sebagai makhluk budaya, tuntutan kebutuhan, dan semangat gotong royong.
b.      Faktor eksternal : tuntutan perkembangan zaman, persamaan kebudayaan, terbukanya kesempatan berpartisipasi dalam kehidupan bersama, persaman visi, misi, dan tujuan, sikap toleransi, adanya kosensus nilai, dan adanya tantangan dari luar
2.1.4.      Syarat Berhasilnya Integrasi Budaya
Untuk mencapai integrasi budaya dalam masyarakat diperlukan setidaknya dua hal berikut untuk menjadi solusi atas perbedaan yang terdapat dalam masyarakat :
1.      Untuk meningkatkan integrasi budaya, maka pada diri masing-masing harus mengendalikan perbedaan/konflik yang ada pada suatu kekuatan bangsa dan bukan sebaliknya.
2.      Tiap warga masyarakat merasa saling dapat mengisi kebutuhan antara satu dengan yang lainnya. Sehingga dalam masyarakat tercipta keharmonisan dan saling memahami antara satu sama lain, maka konflik pun dapat dihindarkan.
Untuk mencapai integrasi budaya seringkali konflik-pun tak terhindarkan , maka perlu dicari beberapa bentuk yang mengakomodasi perbedaan tersebut. Maka dari itu ditawarkanlah empat sistem berikut untuk mengurangi konflik yang terjadi, antara lain:
1.        Mengedepankan identitas bersama seperti sistem budaya yang berasaskan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.
2.        Menerapkan sistem budaya yang bersifat kolektiva budaya dalam masyarakat dalam segala bidang.
3.        Membiasakan sistem kepribadian yang terintegrasi dengan nilai-nilai budaya kemasyarakatan yang terwujud sdalam pola-pola penglihatan (persepsi), perasaan (cathexis), sehingga pola-pola penilaian yang berbeda dapat disamakan sebagai pola-pola keindonesiaan.
4.        Mendasarkan pada nasionalime yang tidak diklasifikasikan atas persamaan ras, melainkan identitas kenegaraan.
Setelah pembahasan diatas kita dapat memahami secara jelas makna dan fungsi penting sebuah integrasi budaya dalam masyarakat. Seperti kita ketahui Indonesia sebagai negara yang multi-etnis tentunya sangat rawan dengan konflik SARA. Maka dari itu integrasi budaya hadir untuk mengharmonisasi masyarakat, sehingga konflik tersebut dapat dicegah. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca sekalian.
2.2. Metode Holistik
Seorang sarjana antropologi tidak hanya bertugas menganalisis kebudayaan dengan mengetahui berbagai cara untuk memerincinya de dalam unsur-unsur yang kecil, dan mempelajari unsur-unsur kecil itu secara detail, tetapi Ia juga bertugas untuk dapat memahami kaitan antara tiap unsuru kecil itu, dan ia harus juga mampu melihat kaitan antara tiap unsur kecil itu, dan ia harus juga mampu melihat kaitan antara setiap unsur kecil itu dengan keseluruhannya. Dengan perkataan lain, ia harus paham akan masalah integrasi sari unsur-unsur kebudayaan. Para ahli natropologi biasanya memakai istilah “holistik” (holistic) untuk menggambarkan metode tinjauan yang mendekati suatu kebudayaan itu sebagai suatu kesatuan yang terintegrasi.
Ilmu antropologi memang telah mengembangkan beberapa konsep yang dapat dipakai untuk memahami berbagai macam kaitan antara berbagai macam kaitan antara berbagai unsur kecil dalam suatu kebudayaan itu. Para ahli antropologi tentu sudah sejak lama mengetahui akan adanya integrasi atau jaringan terkait unsur-unsur kebudayaan itu dipelajari secara mendalam, baru setelah tahun 1920 timbul, dan baru sesudah waktu itu masalah integrasi menjadi bahan diskusi dalam teori.
2.3. Kepribadian Umum
Setiap individu memiliki sifat yang unik. Satu orang dengan orang yang lain memiliki kepribadian yang berbeda. Kepribadian menunjuk pada pengaturan sikap-sikap seseorang untuk bertindak, berpikir, merasakan, cara berhubungan dengan orang lain, dan cara seseorang menghadapi masalah. Kepribadian sendiri terbentuk melalui proses sosialisasi yang panjang sejak kita dilahirkan. Kepribadian mencakup kebiasaan, sikap, dan sifat seseorang yang bisa berubah dan berkembang seiring proses sosialisasi yang dilakukan individu tersebut. Dalam pada itu timbul beberapa konsep untuk menganalisis masalah integrasi kebudayaan, yaitu pikiran kolektif, fungsi unsur-unsur kebudayaan. Fokus kebudayaan, etos kebudayaan , dan kepribadian umum.
Sejak akhir abad ke-19 ada seorang ahli sosiologi dan antropologi Prancis, bernama E. Durkheim, yang mengembangkan konsep representations collectives (pikiran-pikiran kolektif) dalam sebuah karangan berjudul Representations Individuelles et Representations Collectives (1898). cara Durkheim menguraikan konsep itu pada dasarnya tidak berbeda dengan cara ilmu psikologi menguraikan konsep berfikir. Ia juga beranggapan bahwa aktivitas-aktivitas dan proses-proses rohaniah yang primer tadi melalui proses sekunder, menjadi bayangan-bayangan dan sejumlah dari semua bayangan tentang suatu hal yang khas, menjadi gagasan. Suatu gagasan serupa itu oleh Durkheim disebut representation.
Oleh karena gagasan berada dalam alam pikiran seorang individu, maka disebutnya representation individuelle. Gagasan seperti itu bisa juga dimiliki oleh lebih dari satu individu, bahkan juga oleh sebagian besar dari warga suatu masyarakat. Dalam hal itu kita sering bicara tentang “gagasan umum” atau “gagasan masyarakat”, sedangkan Durkheim bicara tentang “gagasan kolektif” atau representation collective. Kecuali itu Durkheim berpendapat bahwa suatu gagasan yang sudah dimiliki oleh sebagian besar warga masyarakat bukan lagi berupa satu gagasan tunggal mengenai suatu hal yang khas, melainkan sudah berkaitan dengan gagasan lain yang sejenis menjadi suatu kompleks gagasan-gagasan, sehingga ia selalu mempergunakan istilah representations collectives dalam bentuk jamak. Untuk membedakan istilah representations collectives dalam bentuk jamak. Untuk membedakan antara gagasan tunggal dengan kompleks berbagai gagasan yang dimiliki oleh sebagian besar dari warga masyarakat, agar jelas sebaiknya kita pakai istilah khusus untuk menerjemahkan istilah Durkheim yang bentuk jamak, yaitu istilah “pikiran kolektif”, sebab istilah “pikiran” memang lebih luas istilah dari istilah “gagasan”.


BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Integrasi berasal dari bahasa inggris "integration" yang berarti kesempurnaan atau keseluruhan. integrasi budaya dimaknai sebagai proses penyesuaian di antara unsur-unsur yang saling berbeda dalam kehidupan masyarakat sehingga menghasilkan pola kehidupan masyarakat yang memilki keserasian fungsi. Definisi lain mengenai integrasi adalah suatu keadaan di mana kelompok-kelompok etnik beradaptasi dan bersikap komformitas terhadap kebudayaan mayoritas masyarakat.
Sedangkan yang disebut integrasi budaya adalah jika yang dikendalikan, disatukan, atau dikaitkan satu sama lain itu adalah unsur-unsur budaya atau kemasyarakatan. Suatu integrasi budaya di perlukan agar masyarakat tidak bubar meskipun menghadapi berbagai tantangan, baik merupa tantangan fisik maupun konflik yang terjadi secara budaya budaya.

Sekian apa yang kami sampaikan, mudah-mudahan bermanfaat.
Baca juga makalah kami yang lain tentang Interaksi Sosial

0 komentar:

Poskan Komentar