Rabu, 15 Mei 2013

Makalah Perjanjian Renville

Posted by Muh Zulfajrin On 12.56 0 komentar

makalahmakalah.com,- puji syukur kehadirat Tuhan yang telah memberikan Rahmatnya sehingga tulisan ini muncul di permukaan. Sebelumnya kami juga telah mempublikasikan makalah Nasakom
 
Pertikaian Indonesia dan Belanda yang tak kunjung menemui titik terang membuat tercetusnya gagasan untuk mengadakan perjanjian. Semula Perdana Menteri Amir Syarifuddin (Ketua Delegasi RI dalam Perundingan Renville), Presiden dan Wakil Presiden, Syahrir, partai Masyumi dan PNI, menolak persetujuan Renville. Tapi laporan dari berbagai panglima tentara kepada Presiden Soekarno yang menyatakan bahwa persediaan amunisi begitu menipis, serta adanya kepastian bahwa penolakan berarti serangan baru dari pihak Belanda secara lebih hebat, dan keterangan dari KTN bahwa itulah upaya maksimum yang dapat dilakukannya, serta tidak ada jaminan dari Dewan Keamanan PBB bisa menolong, menyebabkan pemimpin-pemimpin RI terpaksa menerima persetujuan Renville. Apabila RI menolak, ia harus berperang sendiri dengan korban yang sangat besar.
Tercapainya persetujuan Renville pertikaian Indonesia – Belanda akan diselesaikan dengan jalan damai melalui perundingan. Atas tercapainya persetujuan tersebut Graham memberi komentar “from bullet to the ballot” (dari peluru ke pemungutan suara) atau dari peperangan ke plebisit.
Sementara itu bagi RI, persetujuan Renville berarti kesempatan baik untuk menyusun kembali kekuatan militer, serta timbulnya simpati dunia internasional yang makin lama makin besar karena RI selalu bersedia menerima petunjuk-petunjuk KTN yang mewakili PBB dan selalu menunjukkan sikap cinta damai. Di samping itu penerimaan persetujuan oleh RI tidak dapat diartikan bahwa RI menyerahkan begitu saja daerah-daerah yang diduduki Belanda dalam Agresi I, karena di daerah-daerah itu nanti diselenggarakan plebisit (penentuan pendapat rakyat). Dalam keadaan normal, RI yakin bahwa plebisit itu akan dimenangkan olehnya. Hal ini tentu saja merupakan faktor mengapa RI mau menerima naskah Renville yang merugikan itu.
 
Sekian apa yang kami sampaikan terkait alasan RI menerima perjanjian Renville, mudah-mudahan bermanfaat.
Baca juga makalah kami yang lain mengenai Kesetaraan Gender
Referensi:
Moedjanto, G. 1991. Indonesia Abad ke-20, Jilid 2. Yogyakarta: Kanisius

0 komentar:

Poskan Komentar