Minggu, 19 Mei 2013

Makalah Perkawinan Dalam Kristen

Posted by Muh Zulfajrin On 21.57 0 komentar

 makalahmakalah.com,- puji syukur kehadirat Tuhan yang telah memberikan Rahmatnya sehingga tulisan ini muncul di permukaan. Sebelumnya kami juga telah mempublikasikan makalah Penginderaan jauh

 

Bab 1. ARTI DAN HAKIKAT PERKAWINAN KRISTEN


Memahami pengertian tentang perkawinan dan hakikat perkawinan layak dan perlu dimiliki oleh setiap orang yang telah mengambil keputusan untuk menikah. Jangan sampai sepasang calon mempelai menghadapi kehidupan perkawinan dengan pikiran dan hati yang kosong.
Berikut ini akan dijelaskan tentang definisi, pengertian dan hakikat perkawinan Kristen. Selayaknyalah setiap orang yang mengambil keputusan untuk menikah memahaminya.
A. DEFINISI PERKAWINAN KRISTEN
Sebelum menetapkan rumusan, batasan atau definisi tentang perkawinan Kristen, terlebih dahulu kita simak apa kata Undang-Undang Perkawinan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah pada tahun 1974. Undang-Undang Perkawinan tahun 1974 merumuskan bahwa "Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (-rumah tangga-) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa."
Catatan yang dapat kita berikan atas rumusan ini ialah:
  • Perkawinan itu bersifat utuh atau bulat, yang meliputi keadaan lahir maupun batin.
  • Perkawinan itu bersifat hiteroseksual-monogami, yaitu terdiri dari seorang pria dan seorang wanita.
  • Tujuan dari lembaga perkawinan adalah membentuk keluarga yang bahagia, bahkan tidak hanya bahagia, tetapi juga kekal.
  • Bahwasanya perkawinan itu berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Bukan berdasarkan tradisi maupun dorongan biologis semata-mata.
Lebih dari itu Perkawinan Kristen memiliki karakteristik yang berbeda. Perkawinan Kristen bukan hanya berdasarkan Ketuhanan, melainkan direncanakan, ditetapkan dan diatur oleh TUHAN. Perkawinan Kristen dirumuskan sebagai suatu persekutuan hidup total dalam pertalian kasih antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang berlangsung seumur hidup yang dimeteraikan dengan berkat nikah kudus.
Berdasarkan definisi di atas, berikut ini dijelaskan 5 (lima) kebenaran yang terkandung di dalamnya.
1. Perkawinan Kristen adalah persekutuan hidup total
Perkawinan Kristen disebut persekutuan hidup karena persekutuan itu diakui eksistensinya seumur hidup, dan atau jika kedua-duanya masih hidup. Jika salah satunya telah meninggal dunia, maka persekutuan hidup itu selesai. Hukum yang mengikatnya sudah berakhir dan dimungkinkan pihak yang masih hidup akan menikah lagi untuk membentuk persekutuan hidup yang baru (Roma 7:2). Perkawinan Kristen disebut persekutuan hidup total karena persekutuan hidup itu meliputi seluruh aspek hidup, aspek kehidupan dan aspek penghidupan.
a. Aspek hidup
Aspek hidup meliputi unsur roh, jiwa dan tubuh. Persekutuan roh berbicara tentang perkawinan seiman. Persekutuan jiwa berbicara tentang kesatuan hati, kesatuan pikiran, kesatuan perasaan dan kesatuan kehendak. Dan persekutuan tubuh berbicara tentang relasi seksual.
b. Aspek kehidupan
Aspek kehidupan meliputi unsur keluarga dan kaum keluarga, dan unsur-unsur kepribadian yang menyangkut perbedaan individu. Masing-masing pribadi mengakui bahwa keluarga pasangannya telah menjadi keluarganya sendiri. Kepribadian pasangannya telah menyatu dengan pribadinya sendiri tanpa kehilangan identitasnya masing-masing. Dan perbedaan individu menjadi kekayaan untuk membangun keluarga yang bahagia.
c. Aspek penghidupan
Aspek penghidupan meliputi unsur ekonomi, kekayaan dan penggunaanya dalam kehidupan. Undang-undang perkawinan membedakan kekayaan bawaan dan kekayaan bersama. Kekayaan bawaan ialah kekayaan yang telah dimiliki oleh masing-masing pihak sebelum mereka menikah, sedangkan kekayaan bersama ialah kekayaan yang diperoleh secara bersama-sama selama mereka menikah. Pengaturan demikian berkait dengan penggunaan hak atas kekayaan masing-masing dan untuk menghadapi kemungkinan perceraian. Jika suatu perkawinan mengalami perceraian, maka kekayaan bawaan kembali kepada masing-masing pihak. Di dalam perkawinan Kristen tidaklah berlaku seketat itu, sebab dalam perkawinan Kristen tidak dipola untuk bercerai atau hidup secara terkotak-kotak. Segala kekayaan yang ada adalah kekayaan bersama yang dianugerahkan TUHAN kepada mereka. Ekonomi dan kekayaan bukan menjadi faktor pembeda dan pengotakan, melainkan menjadi berkat yang mempersatukan. Hukum ekonomi yang berlaku bukan lagi hukum ekonomi pribadi, melainkan hukum ekonomi keluarga yang berada di bawah otoritas TUHAN sendiri.
2. Perkawinan Kristen terjadi karena pertalian kasih
Perkawinan kristen terjadi bukan semata-mata untuk menyalurkan libido, bukan karena paksaan atau karena tradisi, melainkan karena kasih. Kasih yang mengalir dari Allah. Mula-mula kasih eros dan kemudian di dalamnya bermuatan kasih agape. Kasih eros saja tidak cukup untuk membangun keluarga Allah. Oleh karena itu Allah menganugerahkan kasih agape. Kasih agape adalah kasih yang hanya untuk mengasihi, tidak menuntut persyaratan tertentu, kasih yang hanya untuk berkorban bagi pihak yang dikasihi. Hal demikian telah dicontohkan sendiri oleh Allah, Dia menyerahkan dan mengorbankan Anak-Nya yang tunggal supaya dunia yang berdosa diselamatkan oleh-Nya (Yoh 3:16).
3. Perkawinan Kristen itu hiteroseksual
Pernyataan ini menunjuk pada pola perkawinan Kristen sejati. Bahwasanya perkawinan itu bersifat hiteroseksual-monogami, bukan biseksual atau homoseksual yang poligami atau poliandri. Allah akan memberi hukuman bagi mereka yang melanggar ketentuan-Nya ini. Perhatikan firman-Nya ini: "Bila seorang laki-laki tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, jadi keduanya melakukan suatu kekejian, pastilah mereka dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri." (Im 20:13 band Roma 1:25,26).
4. Perkawinan Kristen itu abadi
Perkawinan itu berlangsung seumur hidup, hal itu berarti bahwa di dalam perkawinan Kristen tidak ada pembatalan atau perceraian. Perkawinan Kristen hanya mengenal cerai mati, bukan cerai hidup. Selama kedua-duanya masih hidup tidak ada pembatalan atau perceraian. Akan tetapi jika kematian telah memisahkan keduanya, bagi pihak yang masih hidup bebas untuk menikah lagi (Mat 19:16 Band Roma 7:2)
5. Perkawinan Kristen harus bermeterai pemberkatan nikah kudus
Suatu perkawinan dinyatakan syah oleh TUHAN jika telah dimeteraikan dengan berkat nikah kudus. Pemberkatan nikah kudus itu tidak dilakukan secara tersembunyi, melainkan secara terbuka dan disaksikan oleh jemaat TUHAN. Pengakuan Pemerintah atas perkawinan Kristen didasarkan pada Surat Keterangan yang dikeluarkan oleh Gereja. Meterai perkawinan yang dikeluarkan oleh Pemerintah berupa Akta Perkawinan.
Tanpa berkat nikah kudus sesungguhnya perkawinan Kristen tidak pernah ada, sekalipun mungkin suatu kehidupan bersama telah dibangun dan generasi baru pun telah dilahirkan. Dengan perkawinan kudus ini Allah akan bebas berkarya atas keluarga Kristen untuk memberkati, melindungi dan menurunkan benih-benih illahi (Kej 1:28,29;2:23,24).
Perlunya pemberkatan nikah
Orang yang hidup bersama tanpa pemberkatan nikah berarti mereka hidup dalam perzinahan. Sekalipun mungkin yang bersangkutan sudah melakukannya secara adat atau menikah secara catatan sipil. Mengapa? Sebab Allah sebagai pencipta lembaga perkawinan tidak dihormati dan kepada-Nya tidak dimohon untuk memberkati. Sesuatu yang aneh bukan? Orang yang kawin tetapi tidak menerima pemberkatan nikah kudus akan mengakibatkan hal-hal buruk turun-menurun dalam kehidupan keluarga mereka.
Pemberkatan nikah adalah pemberian otoritas kepada masing-masing maupun kepada keduanya untuk melakukan tanggung jawab rohani, yaitu melakukan tanggung jawab di bumi atas nama dan untuk kemuliaan Allah (Kej 1:28).


B. HAKIKAT PERKAWINAN KRISTEN
Sesuatu yang hakiki adalah sesuatu yang sebenarnya, sesuatu yang esensi, yang tidak dapat dipungkiri kenyataannya. Perkawinan Kristen pada hakikatnya ialah penyatuan kembali gambar Allah seutuhnya. Rumusan ini mengandung dua pengertian, yaitu bahwa perkawinan Kristen adalah peristiwa penyatuan kembali. Dan penyatuan kembali yang dimaksud ialah penyatuan kembali gambar Allah seutuhnya.
  1. Perkawinan Kristen sebagai penyatuan kembali Perkawinan Kristen disebut sebagai penyatuan kembali karena asal-mulanya manusia itu hanya seorang diri saja, yaitu Adam. Dari yang seorang ini Allah membentuk pasangannya dari dalam dirinya sendiri. Allah mengubah status manusia dari "dia" (Adam) menjadi "mereka", yaitu Adam dan Hawa. Demikian pernyata-an firman-Nya: "Maka Allah menciptakan menusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka." (Kej 1:27) "Dia" sekarang telah terpisah menjadi "mereka", yaitu laki-laki dan perempuan. "Dia" yang simetris telah menjadi "mereka" yang asimetris. Nah, untuk menjadi simetris kembali Allah menganugerahkan kepada mereka kasih eros. Kasih eros adalah kasih lawan jenis yang membawa mereka bersatu dalam perkawinan. Kasih itulah yang menjadi perekat untuk menyatukan kembali.
  2. Perkawinan Kristen sebagai penyatuan gambar Allah seutuhnya.
    Adam disebut gambar Allah karena kepada Adam Allah mengaruniakan kesamaan-kesamaan keilahian dengan-Nya. Sifat-sifat Allah ada di dalamdirinya. Sebagai gambar Allah Adam sempurna. Kepada Adam Allah mewariskan sifat-sifat "kebapaan"-Nya dan kepada Hawa sifat-sifat "keibuan"-Nya (Yes 42:15;49:15;66:13). Nyatalah sekarang bahwa masing-masing menjadi tidak lengkap dan tidak sempurna. Untuk menjadi lengkap dan kembali sempurna Allah mempersatukan mereka melalui lembaga perkawinan. Hal ini akan menjadi jelas setelah mereka melahirkan anak-anak. Anak-anak akan melihat gambar Allah itu ada pada ayah dan ibu mereka. Ayah mencerminkan sifat kebapaan Allah dan ibu mencerminkan sifat keibuan Allah. Pengenalan yang benar tentang sifat-sifat ayah dan ibu mereka akan menolong dan memudahkan anak-anak mengenal Allah. Sebagaimana Tuhan Yesus katakan: "… Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; …" (Yoh 14:9)
C. MUATAN-MUATAN KEBENARAN
Dari pemahaman bahwa perkawinan adalah penyatuan kembali, maka di dalamnya terkandung empat kebenaran. Keempat kebenaran itu menyatakan bahwa perkawinan Kristen proyeknya Allah, bersifat abadi, hiteroseksual-monogami dan kudus.
1. Perkawinan Kristen itu proyeknya Allah
Pernyataan bahwa manusia itu dibuat tidur nyenyak memberitahukan kepada kita bahwa manusia dalam keadaan pasif. Dalam hal ini Allah tidak memerlukan campur tangan manusia. Seutuhnya dan sepenuhnya semata-mata adalah otoritas Allah sendiri. Manusia menerima apa yang telah Allah perbuat baginya. Hal ini jelas seperti pernyataannya sendiri:"Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku, Ia akan dinamai perempuan, sebab dia diambil dari laki-laki."(Kej 2:23). Oleh karena perkawinan itu proyeknya Allah, maka manusia tidak memiliki hak untuk mengubah polanya, apa lagi membubarkannya.
2. Perkawinan Kristen itu abadi
Perkawinan adalah tindakan sadar yang dilakukan oleh sepasang anak manusia, yang akan dialami bersama; baik dalam suka maupun dalam duka di sepanjang hayat. Perkawinan bukanlah tindakan coba-coba, tindakan memenuhi kewajiban atau tindakan keterpaksaan. Dari dalam, perkawinan adalah tindakan kepastian yang mengunci mata, telinga dan nafsu kepada pihak lain mana pun. Masing-masing mengkhususkan dirinya bagi pasangannya. Sedangkan dari pihak luar, tidak diijinkan pihak manapun untuk mencoba menggagalkan sebuah perkawinan Kristen. Alkitab tidak pernah menceritakan bahwa Adam dan Hawa bercerai. Bahkan Tuhan Yesus sendiri menyatakan: "Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia." (Mat 19:6). Demikian juga nabi Maleakhi: "Sebab Aku membenci perceraian, fitman TUHAN, Allah Israel – juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman TUHAN semesta alam. Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat."(Mal 2:16) Akan tetapi pada kenyataannya ada keluarga kristen yang bercerai. Mengapa? Tuhan Yesus menyebutnya sebagai adanya ketegaran hati (Mat 19:8).
3. Perkawinan Kristen itu hiteroseksual-monogami
Perkawinan Kristen di dalamnya tidak terdapat adanya kemungkinan kawin poligami, poliandri maupun perkawinan sejenis. Sebab yang ada hanya dua orang, yaitu Adam dan Hawa. Tidak ada pihak lain di sekeliling mereka. Allah memperingatkan mereka yang hidupnya tidak tertib dan tidak hormat terhadap perkawinan (Im 20:13; 1 Kor 7:2). Kegeraman Allah atas mereka yang tidak tertib terhadap seks dan perkawinan telah ditunjukkan pada murka-Nya atas penduduk Sodom dan Gomora. (Kej 19)
4. Perkawinan Kristen itu kudus
Perkawinan Kristen di dalamnya tidak terdapat adanya kemungkinan perselingkuhan, sebab di sana tidak ada orang ketiga; kecuali hanya Adam dan Hawa. Perselingkuhan adalah pelanggaran terhadap tatanan atau hukum Allah dan karenanya perselingkuhan adalah dosa. Tetapi mengapakah dunia mengenal perceraian, poligami dan juga perselingkuhan? Itu karena ketegaran hati manusia, tetapi sejak semula tidaklah demikian.
Ayat-ayat berikut menolong kita untuk memahami pengertian ini. "...Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya." (Mal 3:15b) "Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah." (Ibr 13:4). Jadi apa yang telah tertulis adalah konsepnya Allah.
Apa yang telah dikonsepkan oleh Allah adalah baik dan sempurna. Hal itu bukan untuk kepentingan Allah, melainkan untuk kepentingan manusia sendiri. Oleh karena itu jika manusia menginginkan hidup perkawinannya baik dan lestari, maka jangan sekali-kali mengutak-atik atau bahkan mengoyak hukum dan rencana Allah. Jangan mengganti tatanan Allah dengan tatanan sendiri. Ikutilah jalan-jalan-Nya maka kita akan tetap berada dalam keadaan baik.
Sekian apa yang kami sampaikan, mudah-mudahan bermanfaat
baca juga makalah kami yang lain tentang Che Guevarra

0 komentar:

Poskan Komentar