Rabu, 15 Mei 2013

Makalah Sosialisme

Posted by Muh Zulfajrin On 12.20 0 komentar

makalahmakalah.com,- puji syukur kehadirat Tuhan yang telah memberikan Rahmatnya sehingga tulisan ini muncul di permukaan. Sebelumnya kami juga telah mempublikasikan makalah Komunisme
 
 
BAB I
PENDAHULUAN


Teori tentang Sosialisme adalah  sistem organisasi sosial dan ekonomi di mana salah satu ciri utmanya adalah sumber kekayaan negara di nikmati bersama oleh masyarakat secara merata yang muncul pertama kali di Prancis sekitar abad 18.
Ada bermacam-macam aliran sosialis. Sosialisme bukan hanya teori atau sistem organisasi sosial dan ekonomi tetapi juga menjadi suatu idiologi politik yang pernah berkembang di dunia, yan mempunyai beberapa unsur.
Dalam faham sosialisme sejak semula terdapat kerancuan. di satu fihak sosialisme merupakan sebuah cita-cita moral tinggi yang mutlak sifatnya: cita-cita tentang pola perekonomian yang non eksploitatif, yang tidak ditentukan oleh kekuasaan individu, melainkan oleh keperhatinan bersama, tentang sebuah masyarakat yang berlandaskan kesetia kawananyang sejati.

BAB II
PEMBAHASAN

A.      Sejarah
Sosialisme  (sosialism) berasal dari bahasa Prancis yang berarti kemasyarakatan.  Sejarah beberapa orang berpendapat Robet Owen yang berasal dari wales merupakan seorang sosialis pertama, beliau dianggap sebagai penggagas koperasi di Britain. Istilah ini muncul pertama kali di Prancis pada tahun 1830. Sosialisme merupakan teori atau sistem organisasi sosial ekonomi dimana salah satu ciri utamanya adalah sumber kekayaan negara dinikmati bersama oleh seluruh rakyat secara merata. Umumya sebutan ini dikenakan bagi aliran yang masing-masing hendak mewujudkan masyarakat yang berdasarkan hak milik bersama terhadap alat-alat produksi, dengan mangsud agar produksi tidak lagi diselenggarakan oleh orang-orang atau lembaga perorangan atau swasta yang ingin memperoleh laba sendiri, tetapi semata-mata untuk melayani kebuthan masyarakat. Dalam arti tersebut  ada empat macam aliran yang dinamakan sosialisme: sosialisme demokrat, komunisme, anarkisme dan sinkalisme. Selepas perang Dunia pertama dan Revolusi Rusia , sosialisme terbagi menjadi dua yaitu sosialis yang mengikuti Lenin yang dipanggil komunis dan yang lain adlah yang percaya kepada sistem parlemente yang dipanggil sosialis demokrat.
Istilah sosialis atau negara sosial demokrat digunakan untuk menunjukkan negara yang menganut paham sosialisme moderat yang dilawankan dengan sosialisme radikal untuk sebutan lain lagi bagi komunisme. Perbedaan yang paling menonjol antara sosialis demokrat dan komunisme (marxsisme-leninisme) adalah sosial demokrat melaksanakan cita-citanya dengan jalan evolusi, persuasi, konstitusional-parlementer dan tanpa kekerasan, sebaliknya komunisme melalui revolusi.
Dalam perkembangannya, Lenin dan Salatin berhasil mendirikan Negara Komunis . istilah sosialis lebih disukai dari pada komunis karena dirasa lebih terrhormat dan tidak menimbulkan kecurigaan. Mereka meyebut masa transisi dari negara kapitalis kearah negara komunis atau masyarakat tidak berkelas sebagai masyarakat sosialis dan masa transisi itu terjadi dengan dibentuknya Negara Sosialis, kendati istilah resmi yang mereka pakai adalah “negara demokrasi rakyat”. Di pihak lain negara di luar “negara Sosialis” yaitu negara yang diperintah oleh partai komunis, tetap memakai sebutan komunisme untuk organisasinya, sedang partai komunis di Negara Barat memakai sebutan “sosialis demokrat” (meriam Budiarjo, 1984: 5).  Dengan demikian  dapat dikemukakan,sosialisme sebagai idiologi politik adalah suatu keyakinan dan kepercayaan yang dianggap benar mengenai tatanan politik yang mencita-citakan kesejahteraan masyarakat secara merata melalui jalan evolusi, persuasi, konstitusional-parlementer dan tanpa kekerasan.
Sosialis yang terkenal antara adalah Karl Marx yang menulis buku The Communist manifesto, Wladimir Lenien, James Konnolly, Rosa Luxemburg, Fidel Castro, Muammar al-Gaddafi, Albert Einsten, Robet Mugabe, Ho Chi Minh dan Jhon Lenon,

B.      Unsur-unsur pemikiran dan politik sosialisme
Kekuatan dan kelemahan utama sosialisme terletak dalam kenyataan bahwa sistem ini tidak memeiliki doktrin yang pasti dan berkembang karena sumber-sumber yang saling bertentangan dalam masyarakat yang menjadi wadah perkembangan sosialisme.
Unsur-unsur pemikiran politik yang rumit dan saling bertentangan dengan jelas tergambar dalam gerakan sosialis Inggris, yaitu: Agama, Idealis Etis dan Estetis, Emperisme Fabian dan liberalisme (Willian Ebnestein).
1.      Agama
Dalam buku The Labour partyin Prespective Attles dikemukakan bahwa, dalam pembentukan gerakan sosialis bahwa pengaruh agama sangat kuat. inggris pada abad 19 masih merupakan bangsa yang terdiri dari para pembaca kitab suci.  Prinsip yang menjadi pedoman bagi kaum sosialis Kristen adalah konsep yang mendasarkan bahw sosialis harus dkristenkan dan kristen harus disosialiskan. Adanya perhatian agama kristen yang bersifat praktis ini sangat kuat terasa selam pengaruh terahir abad 19. Kesungguhan moral kejujuran merupakan ciri masa ini. Agama mengakui kesopanan dan dan kepercayaan merupakan syarat penting untuk memeperoleh keselamatan, akan tetapi tetap menekankan pentingnya perbuatan dan penyelamatan.

2.      Idelisme etis dan Estetis
Idialisme yang digunakan beberapa penulis seperti Jhon Ruksin dan William Moris bukanlah suatu program politik  ekonomi, tetapi merupakan pemberontakan kehidupan yang kotor, membosankan dan miskin dibawah kapitalisme  industri. Berkembangnya kapitalisme di Inggris  mungkin menciptakan lebih banyak keburukan dibanding ditempat lain . karena para industriawan di Inggris tidak dapat membayangkan nantinya kapitalisme akan merubah air dan udara yang jernih dan keindahaan diwilayah Inggris.
3. Empirisme Febian
Empiris Febian merupakan ciri yang khas gerakan Inggris. Masyarakat febian didirikan pada tahun 1884, mengambil nama dari jendral romawi yaitu Qointus Febian Maxsimus Consator, Si”pengulur waktu” atau “penunda”. Moto awal dari masyarakat tersebut adalah “engkau harus menunggu saat yang tepat, kalau saat yang tepat itu tiba engkau harus melaksanakan serangan yang dasyat, sebab jika tidak, penundaan yang enkau lakukan sia-sia dan tidak akan membawa hasil”.
Weeb menekankan bahwa organisasi sosial haya dapat terbentuk secara perlahan dan perubahan-perubahan organisasi.
Febianisme sering digambarkan sebagai pembaharu tanpa kebencian, pembangunan kembali perang kelas, emperialisme politik tanpa dogma dan fanatisme.

3.                       Liberalisme
Liberalisme telah menjadi sumber yang sangat penting bagi sosialisme, terutama sejak partai Liberal merosot peranannya di banyak negara. Di Inggris sebenarya Partai Liberal telah lenyap dan Partai Buruh menjadi pewarisnya.
Liberalisme memberikan memberikan sumbangan yang cukup besar hal-hal yang berguna bagi sosialisme. Karena pengaruh ini pemimpin sosialis lebih moderat dan kurang terpaku kepada doktrin serta lebih menghargai kebebasan individu.

C.      Kerancuan konseptual
   Dalam faham sosialisme sejak semula terdapat sebuah kerancuan. Di satu pihak sosialisme merupakan sebuah cita-cita moral tinggi yang mutlak sifatnya: cita-cita tentang pola perekonomian yang non-eksploitatif, yang tidak ditentukan oleh kerakusan individual,melainkan oleh keprihatinan bersama; tentang sebuah masyarakat berlandaskan kesetiakawanan yang sejati.
   Tetapi di lain pihak cita-cita itu dikaitkan pada sebuah konsep perekonomian empiris tertentu, perekonomian atas dasar penghapusan hak milik pribadi terhadap alat-alat produksi. Sosialisme adalah kepercayaan bahwa sumber ketidakpastian sosial terletak dalam hak milik pribadi produktif. Kombinasi dua unsure itu, cita-cita etis dan kepercayaan empiris ekonomis, menghasilkan utopi sosialisme, harapan akan masyarakat tanpa eksploitasi. Akan tetapi, suatu gerakan yang mengkaitkan cita-cita mutlak pada sebuah program politik empiris mudah menjadi ideologis.
D.     Sosialisme Menjadi Etatisme
   Kerancunan itu mempunyai akibat jauh. Apabila perekonomian tidak dalam tangan perorangan, lalu harus dalam tangan siapa? Hamper seluruh gerakan sosialis, yang marxis maupun yang bukan, sampai pada tahun 50-an, jadi selama lebih dari satu abad, menjawab penuh keyakinan: di tangan negara. Sosialisme de facto menjadi etatisme.
   Dengan demikian kekuasaan pasar – yang memang bisa brutal dan tidak manusiawi, tetapi tidak toleran terhadap inefisiensi, pemborosan, dan korupsi – diganti dengan perencanaan dan distribusi sentral. Akibatnya sungguh ironis: pembagian hasil produksi menurut ekonomi pasar strict structural [= mengikuti keseimbangan kekuatan-kekuatan penentu di pasar] diganti dengan kepercayaan pada kejujuran dan cita-cita keadilan birokrasi. Hasrat untuk membongkar akar-akar egoisme ekonomis structural menghasilkan konsepsi ekonomi dimana hasil baik tergantung dari keahlian dan good will elit birokratis negara.
   Maka dalam semua negara sosialis, apakah itu negara-negara komunis, atau  negara-negara sosialis di dunia ketiga, sosialisme menjadi sinonim bagi stagnasi, inefisiensi, birokratisme, mumpungisme, korupsi, pekerjaan tak mutu dan seenaknya, polusi dan perusakan lingkungan. Sekaligus di semua negara itu penyakit tradisional negara birokrat mencolok: keangkuhan penguasa, ketidakpedulian akan penderitaan nyata masyarakat [ karena yang diganjari bukan pemuasan kebutuhan masyarakat, melainkan pemenuhan rencana pusat], kekakuan dalam penyesuaiannya terhadap kondisi-kondisi lokal, pendekatan top-down dan permusuhan terhadap dan permusuhan terhadap usaha-usaha demokratis basis. Yang tragis ialah bahwa dengan demikian sosialisme gagal justru dalam claim-nya yang paling fundamental: dalam cita-citanya untuk membentuk pola kehidupan bermasyarakat di mana manusia dihargai sebagai manusia dan bukan sebagai unsure produksi, dimana, sekurang-kurangnya, kebutuha dasar dan kesejahteraan umum seluruh masyarakat terpenuhi.
   Barangkali orang bertanya: tetapi bagaimana halnya Yugoslavia yang sosialismenya mengikutsertakan kaum buruh dalam penentuan kebijakan perusahaan-perusahaan dimana mereka bekerja? Eksperimen itupun dinilai sudah lama gagal. Sejak lahir tahun 70-an ekonomi Yugoslavia berstagnasi di pinggir kebangkrutan. Namun barangkali dari kegagalan itu tidak boleh ditarik kesimpulan-kesimpulan yang terlalu jauh. Ada kemungkinan bahwa eksperimen penguasaan langsung buruh terhadap proses produksi ini gagal terutama karena dua sebab: karena dicoba dalam kerangka makro sosialisme etatistik; dan karena self-administrarion kaum buruh itu lebih tepat merupakan akhir,dan bukan permulaan sebuah proses.
E.      Kesamaan
Ada masalah yang lebih fundamental. Cita-cita sosialisme tidak lepas dari egalitarisme: sebagai lawannya liberalism, sosialisme mengutamakan kesamaan.
   Prioritas kesamaan terhadap kebebasan menjadi dilema terdalam sosialisme. Sebaliknya tidak percuma bahwa revolusi perancis menyebutkan kebebasan sebelum kesamaan dan bahwa John Rawls dalam teori keadilannya yang termasyhur menegaskan bahwa keadilan hanya dapat tercapai apabila kebebasan diberi prioritas.
   Kesamaan bukan konsep natural, melainkan moral, secara alami manusia tidak sama, melainkan berbeda dalam kekuatan fisik, intelektual, psikis, dan moral. Oleh karena itu kesamaan alami dan real hanya dapat dicapai dengan membatasi kebebasan.dalam masyarakat yang bebas, pembatasan kebebasan demi kesetiakawanan bersama merupakan keharusan etis dan sosial. Tak ada hak atas kebebasan tanpa batas. Tetapi karena kebebasan didahulukan, pembatasan kebebasan sendiri tidak tanpa batas, melainkan hanya sejauh pembatasan itu dapat dipertanggungjawabkan. Jadi, kalau kebebasan diprioritaskan, kesamaan tetap dapat diusahakan, karena kebebasan yang diusahakan itu memang terbatas dan dapat dibatasi.
   Tetapi sebaliknya, kalau kesamaan didahulukan, kebebasan harus dihapus karena kebebasan dengan sendirinya condong mengembangkan perbedaan-perbedaan natural. Prioritas kesamaan dengan sendirinya menghasilkan kesamaan yang tidak bebas. Secara sederhana: karena manusia secara alami tidak sama, kesamaan hanya dapat dicapai melalui paksaan.
   Kesimpulan ini menunjukkan ironi mendalam usaha yang mau memprioritaskan kesamaan : apabila kesamaan didahulukan, kesamaan niscaya juga meniadakan dirinya sendiri, karena kesamaan hanya dapat tercapai melalui paksaan. Tetapi paksaan mengandalkan adanya kelas atau kelompok orang yang memaksa. Maka mendahulukan kesamaan terhadap kebebasan dengan sendirinya akan menghasilkan sebuah masyarakat yang terbagi dua:  masyarakat yang sama dan sebuah elit di atasnya yang mengawasi serta memaksakan kesamaan itu.
Justru itulah yang terjadi dalam semua masyarakat sosialis. Selalu terbentuk sebuah elit yang bertuan di atas masyarakat biasa, dimana elit itu menikmati pelbagai privilese dan keistimewaan yang tidak jarang melampui apa yang dapat dinikmati oleh kebanyakan angota kelas-kelas dan di negara-negara nonsosialis.
   Maka tak satu pun dari negara-negara yang mencoba merealisasikan sosialisme berhasil mewujudkan demokrasi nyata, tak satu pun dimana orang kecil tidak diobjekkan lebih buruk daripada dalam kebanyakan masyarakt liberal.
 
BAB III
PENUTUP


KESIMPULAN

Sosialisme lahir karena sistem kapitalisme menciptakan ketidak adilan antara pemilik modal atau kapitalis dan kaum buruh mempunyai kesenjangan yang sangat jauh, sehingga menimbulkan perlawanan-perlawan dari kaum buruh untuk menuntut kesetaraan. Semua sumberdaya alam, alat-alat produksi di gunakan untuk kepentingan seluruh rakyat secara meraata.
Sosialisme dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pada masyarakat bangsa yang memiliki tradisi demokrasi yang kuat. Unsur-unsur yang ada dalm pergerakan sosialis sebagaimana tergambar di Inggris yang mencakup: agama, idelisme etis dan estetis, empiris febian dan liberalisme.
Sosialisme menekankan persaman, sebaliknya kalau persamaan didahulukan,maka kebeasan harus dihapuskan karena kebebasan condong kepada perbedaan. Prioritas kesamaan denggan sendirinya menghasilkan masyarakat yang tidak bebas. Secara sederhana, karena manusia secara alami tidak sama maka persamaan hanya dapat tercapai karena ada paksaan.
 
Sekian apa yang kami bisa sampaikan, mudah-mudahan bermanfaat.
Baca juga makalah kami yang lain Teori Terciptanya Bumi



DAFTAR PUSTAKA


Magnis Franz, suseno,berfilsafat dari konteks, Gramedia Pustaka Utama, jakarta, 1992.
http://ms.wikipedia.org/wiki/sosialisme

0 komentar:

Poskan Komentar